Temans, saya peringatkan sebelumnya, ini adalah postingan gundah gulana. Jadi, klo ada yang lagi bete atau sedih juga, mungkin sebaiknya ndak usah mbaca (klo bete/sedihnya tambah parah, saya ndak tanggung jawab lho, hehe).
Sebenernya, apa yang akan saya tulis sekarang ini, sudah lamaaa sekali berputar-putar dalam benak saya. Saya cari-cari jawabannya, tapi nggak ketemu-ketemu juga (atau mungkin memang tak ada jawabnya, saya ndak tahu pasti). *Duh, mo ngomong apa sih si Fa ini? pake muter-muter ndak jelas*.
Begini lho..., hampir semua pasangan di muka bumi ini, pasti ingin memiliki keturunan kan? Dan ketika yang ditunggu-tunggu belum hadir, pasti diusahain kan? Dan yang namanya usaha, biasanya sih usaha fisik (seperti ke dokter atau ke dukun atau mencoba mempraktekkan 10 cara yang katanya bisa meningkatkan peluang untuk memiliki anak) dan berdoa.
Nah, ada satu hal yang selalu membuatku bimbang saat berdoa. Ketika aku memohon agar Tuhan memberiku seorang anak, selalu ada serentetan pertanyaan yang bergemuruh di otakku. Bagaimana jika Tuhan menjawab 'apa kamu sanggup membesarkan seorang anak dan mendidiknya hingga menjadi orang berguna?'. Lalu ketika doa-doaku tak kunjung terkabul, rentetan pertanyaan lain semakin deras membanjiri kepalaku.
Aku takut Tuhan berkata; 'dunia ini sudah sesak, kenapa kamu tidak mengambil seorang anak dari panti asuhan saja dan memberinya masa depan yang lebih baik?', atau 'apa sih sebenarnya tujuanmu 'ngeyel' pengen punya anak?'
Dan ya, aku jadi mempertanyakan kembali apa sebenarnya tujuanku? Kenapa aku begitu ingin memiliki seorang anak? Apakah hanya karena egoku yang sedemikian besar untuk menjadi orang tua atau sekedar memenuhi tuntutan keluarga? Bukankah setiap keinginan seharusnya dilandasi niat untuk beribadah? Kalau untuk beribadah, merawat dan mendidik seorang anak terlantar bukankah sama baiknya?
Dan semua pertanyaan-pertanyaan itu, tak ada satupun yang terjawab. Sigh.
Only registered users can write comments. Please login or register.