owner..

Just a Simple Fa!

Fa - Yogyakarta

Love Kitty. Love Chocolate.

Love You.

menus..
Home
sehari-hari
hasil dapur
ungkapan hati
artikel
pengumuman
album foto
buku tamu
kirim surat
Cari
visitors..
We have 2 guests online
Total Visitors: 408249
Your IP Address: 38.103.63.17
Popular
Lastest Comments
pisang bhundhuk :p
mantabb
bener-bener mantap :)
07/08/08 08:43 More...
By muza

cupcake buat si tuan...
bagi bagi resepnya dong mba
:) Mba boleh dituliskan resepnya , cara buatnya ,,, pengin ...
07/08/08 08:37 More...
By muza

when a woman...
curhat ya
wah kayaknya ada yang lagi curhat nih.. Tuan Besar udah bac...
06/08/08 16:15 More...
By Nunik

when a woman...
Minta izin ya
aku minta ijin atas postinganku berikut ini diblogku http:/...
06/08/08 02:28 More...
By khai

when a woman...
ouch.
duuh sedih bacanyaaaaa ... terharuuuu ... semoga dapet cowok...
05/08/08 22:28 More...
By hanny

banners..
banner

Ikutan Yuk!

Indonesian Muslim Blogger

not only reviews!

yang kadang terlalu lutju untuk dilewatkan...

Bangga Bergabung Dengan CAHANDONG.ORG

Bangga Menjadi Anggota Blogger Malang Raya!

Indonesian Blogger Condemn Israel (call for action)

Save Our Masjid!

Stop Bugil di Depan Kamera!

Dukung dan Cintai Indonesia apa adanya!

Solidaritas untuk anak Indonesia

Puas Menggunakan Joomla!

PageRank Checker

syndicate..

 

 

Belajar Sedikit dari... Print E-mail
Written by Fanya Ardianto   
Thursday, 25 May 2006
Dulu, waktu aku lagi nyari-nyari artikel tentang wanita dan kesetaraan jender di rumahnya om google, salah satu link yang muncul adalah link ke Kompas Cyber Media edisi 5 Mei 2005. Memang berita yang aku dapet tidak sesuai dengan yang aku minta, tapi berita itu sampe sekarang aku simpan, karena aku merasa mendapat sedikit (lebih banyak) pelajaran. Yaitu beberapa tips dalam membagi hidup dengan seorang pria istimewa yang berlabel ‘suami’. Berita itu berisi wawancara dengan Ibu Negara ke-4 Republik Indonesia (hihi, lengkap amir, tapi nggak salah kan?) yaitu Ibu Sinta Nuriyah. Awalnya sih, wawancaranya seputar kegiatan yang waktu itu digeluti beliau (dan itu mungkin tidak begitu menarik minat sebagian dari anda, hihi), tapi bagian akhirnya menurut saya banyak mengandung pelajaran bagi para ibu dan bapak yang kebetulan mampir dan mbaca blog saya. So, klo lagi luang, simak deh dan cari sendiri yah pelajarannya, hehe *wink*.
Keterangan : W = Wartawan; S = Ibu Sinta (dikutip sesuai aslinya), yang ada dalam kurung adalah komentar saya, hehe...

W   =    Orang melihat Gus Dur kadang emosional dalam berbicara. Di rumah bagaimana?
S    =    Kadang-kadang suka terbawa. Kalau sudah begitu jangan dekat-dekat… menyapanya dengan yang lembut-lembut yang tidak ada sangkut pautnya dengan itu semua. (satu tips menghadapi suami yang mungkin sedang capek atau suntuk karena kerjaan, tips lain adalah mencoba bertanya pada suami secara perlahan, siapa tau suami bersedia ngeluarin unek-unek ke istrinya biar bisa ngerasa lebih plong).
W    =    Mesti banyak sabar?
S    =    Oh iya, berlipat-lipat. (catet ya ibu-ibuuu, termasuk saya! hehe)
W    =    Dalam tulisan di berbagai media, Gus Dur menyebut mengagumi dan menghormati Anda? (satu cara jitu memberikan penghargaan berupa pujian kepada istri yang jauh dari kesan ngegombal, yaitu menyampaikan rasa kagum terhadap istri dengan tulus kepada pihak lain)
S    =    Masak sih? Ya, rumah tangga, apalagi bila sudah ada anak-anak, kalau sampai terjadi clash atau kepatahan dalam rumah tangga, yang jadi korban bukan hanya suami dan istri, tetapi juga anak-anak. Jadi, bukan karena saya perempuan lalu harus mengalah, tetapi mengalah untuk membangun rumah tangga yang baik, menjaga kelangsungan rumah tangga.
W    =    Buat kebanyakan perempuan mengalah itu diartikan diapakan saja manut?
S    =    Untuk saya, dia bicara apa saja saya dengarkan, saya ingat-ingat, enggak usah dijawab, enggak usah dibantah. Nanti suatu saat kalau ada apa, saya bilang dulu kan omong begini-begini… Nah, enggak bisa bantah kan? Jadi, enggak usah dibantah dulu. Sepanjang pengalaman saya rasanya laki-laki itu memang enggak mau dijawab (ditimpali), apalagi dibantah.... Mungkin itu sifat laki-laki. Kalau begitu kita kan harus punya strategi. Saya catat saja omongan dia dalam hati, nanti suatu saat kita lempar balik. (untuk yang mau mencoba memahami pria jauh lebih dalam...., dan para ibu harus terus mencoba memahami suaminya jauh lebih dalam kan?)
W    =    Dengan cara itu pernikahan jadi langgeng?
S    =    Insya Allah, September tahun ini akan 34 tahun. Dulu memang sebagai orang muda, darah muda, kalau suami omong rasanya ingin marah. Tetapi, saya menyadari perempuan itu kalau sudah omong (berselisih dengan suami) pasti sambil nangis. Kalau sudah begitu enggak bisa semua keluar kan? Untuk menghindari itu, semua unek-unek saya tulis, lalu saya taruh di tumpukan baju Bapak paling atas. Nanti kalau datang ambil baju, dia lihat ada surat. Itu untuk menghindari konfrontasi yang hebat tetapi unek-unek kita enggak sampai. Alhamdulillah, efektif. Nanti dia menjelaskan begini, begini. Kan dia membacanya sudah dengan kepala dingin. Ya begitulah perempuan memang harus punya strategi jitu. (horee...dapet satu contekan lagi, nggak harus sama persis, tapi poinnya adalah klo lagi emosi mending diem dulu, daripada ngomong ngelantur kemana-mana, apalagi sampe bawa-bawa isi bon-bin, hehe...btw, ini tips bisa untuk suami bisa juga untuk istri loh dan bisa dimodifikasi sesuai situasi dan kondisi masing-masing)
W    =    Gus Dur romantis?
S    =    Kadang, kalau ingat, he-he-he. Kalau ingat, mau pergi cium mata saya. Kalau lagi enggak ingat, aduhhh… pamit saja enggak… Itu dari dulu, paling enggak sejak jadi Ketua PB NU. Kalau waktu pertama kali menikah ya tidak. (pelajaran buat para suami: romantis itu sangat perlu lho....; pelajaran buat para istri: klo ternyata suami nggak bisa romantis juga seperti apa yang diinginkan, ya uda nggak usah kecewa, dunia blum kiamat kok...)
W    =    Gus Dur berbeda dari kebanyakan laki-laki di pesantren. Gus Dur mau mengganti popok anak-anaknya?
S    =    Waktu melahirkan anak kedua, kami sudah di rumah sendiri. Kalau malam bayi nangis dia mengganti popoknya. Bayinya diangkat, dikasih ke saya, saya tinggal menyusui. Kalau bayinya sudah tidur, Bapak yang mengangkat lagi si bayi, dipindahkan ke boks. (ehm! nah, ini perlu dicatet sama para suami yang pulang ke rumah selalu sok capek dan merasa tidak perlu bertanggung jawab terhadap tugas-tugas rumah tangga yang dicap hanya kewajiban istri)
W    =    Itu karena kemauan sendiri?
S    =    Iya, kesadaran sendiri. Saat awal-awal berumah tangga, kalau tidak ada pembantu, Bapak bantu-bantu pekerjaan rumah yang ada unsur airnya karena Bapak gemuk. Jadi, Bapak mencuci, saya menyetrika. Kalau saya masak, Bapak yang cuci piring. Saya yang menyapu, dia mengepel. Tetapi, di kalangan pesantren itu dinilai merendahkan martabat laki-laki. (ibu-ibuuu klo bapak-bapaknya sudah mau bantu-bantu, jangan langsung aji mumpung trus nyuruh minta tolong ini dan ituh, bukan cuma tangan Cinderella yang cuma dua, hehe..)
W    =    Kenapa Gus Dur mau?
S    =    Itu kesadarannya sendiri. Sekolahnya kan di luar negeri. Di sana semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan laki-laki.Di Indonesia saja semua ajaran agama salah dipahami. Semua urusan rumah tangga, urusan anak, suami, mengatur rumah, mencuci, menjadi kewajiban istri. Kalau tidak dilakukan akan dosa dan masuk neraka, iya kan? Padahal di Arab, justru laki-laki yang melakukan, enggak ada perempuan bekerja. Itu budaya saja. Perempuan di sana seperti ratu lebah, hanya beranak. (memang bener, dalam Islam tugas istri bukan masak-macak-manak, tapi cuma macak dan manak saja, sementara tugas lain adalah tanggung jawab suami, tapi, kita semua sepakat kan klo masak -plus pekerjaan rumah yang lain- adalah salah satu wujud pengabdian istri pada suami yang pahalanya ndak terhitung).
W    =    Kalau begitu, Gus Dur bisa disebut feminis?
S    =    Saya rasa bisa. Itu saya rasa karena pengaruh keluarga. Keluarga Bapak kan ditinggal ayahnya pada waktu anak-anak masih kecil. Jadi, mereka melihat figur ibu sebagai orangtua tunggal di mana ibu itu melakukan segala-galanya. Saya kira itu juga sangat berpengaruh.
W    =    Dalam pernikahan ada pasang-surut, termasuk ketika ada kasus Aryanti (2000)?
S    =    Yang saya lihat, ya enggak. Sudah enggak bisa dipercaya (berita itu). Sudah mudah terlihat kebohongannya (kabar itu). Kok, seleranya seperti itu? (hehehe...sudah pada tau maksudnya kan? Sebagai istri katanya sih kita harus ngasih kepercayaan yang tidak terbatas ke suami, nah, suami juga ndak boleh dong menyalah-gunakan kepercayaan itu)
W    =    Sempat tanya kepada Gus Dur?
S    =    Ya enggak, wong sudah mudah terlihat enggak benar (berita itu). Wong datang ke Kantor PB NU ya hanya sekali, kok langsung begitu.
W    =    Bagaimana bila Anda disebut feminis?
S    =    Asalkan feminis itu tidak dilihat seperti yang di Barat. Bila ada yang tanya selalu saya tekankan, apakah penggunaan istilah feminis itu berarti jalan pikiran Anda mengarah ke Barat. Di sana, feminisme itu perjuangan untuk fight dengan laki-laki, berebut kekuasaan. Di sini adalah kesetaraan, laki-laki adalah mitra sejajar perempuan, bukan saling mengalahkan, memperebutkan. Bersama-sama membangun bangsa, rumah tangga. Dan itu memang yang dianjurkan agama.
Kesimpulannya, silahkan dipikir sendiri-sendiri... *wink*

Write Comment


Name:
E-mail
Homepage
Title:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



I wish to be contacted by email regarding additional comments
Please, calculate first,.....
 6          T8I      
C9     T    L X   GP7
 U    CH6   O 9      
 S     H    M D   6UH
UTN         NTN      


Quote this article on your site | Views: 1007

  Comments (1)
RSS comments
 1 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 25-08-2007 10:43 , IP: 202.169.226.56
:upset  
:x  
no comment 
 
<<< :grin >>>
 
< Prev   Next >

 
 
kitty.gif
best view..

on 1024 x 768 pixel

with Latest Version of

Mozilla Firefox

& Opera

 

-

new posts..
advertise..

Advertise

Pesen Snack di Sini!

Belanja di ModeKidz!

Domain Shop! - just create and register your own domain here, its cheap! price start at Rp. 27.600,-/year!

Web Hosting! - berbagai macam layanan hosting dari JogjaMedianet.

Hot Review - a movie review that must be read before your watch.

Human Relationship - you must read this, all about human relationship in black and white.

Ciqal's Handicraft - a handicraft outlet of Center for Improving Qualified Activity in Live of people with disabilities.

JogjaMedianet! - The Real Broadband Provider in Yogyakarta. Layanan : TV Kabel, Internet Kabel (HFC Network), Internet Wireless, Koneksi IIX, Datacenter.

BaliMedianet! - The Real Broadband Provider in Bali. Layanan : Internet Wireless, Koneksi IIX, Datacenter.

KebumenMedianet! - The Real Broadband Provider in Kebumen. Layanan : Internet Wireless, Koneksi IIX, Datacenter.

SiCerdik! - kunjungi Situs Cerdas dan Mendidik persembahan PT. SIMS.

Ovulation Calendar - an ovulation prediction program that uses menstrual cycle information to generate your personal fertility calendar, and lets you choose the gender of your baby.

 

 

blogroll...

aad aLe amma antobilang alex budianto arie subowo anangku andhika arezk asri tadda arya perdhana annots arie wibowo az-fa awandiga andress agus syafii adi wirasta aribowo-ayahshiva andi bagus beve berlian ratnasari bayu boy bunda key bina iman babenya alif cacing cinema reviews daridapur dewie sekar dhie dian dhona subroto diana winarno diditjogja dipto dhira didut dian ellya endang purwanti entik fame fertob fa on 3D gallery fa hilda hoeda hoedan hariadhi hahan isna intan ariestya ida safyan isma istantina indra pr isnuansa informasi beasiswa johan firdi kitafoto ketua rw08 kw kailani kiki kopata linto luigi pralangga mae astee maryulis max meli meyrinda munawir cak moki monik myhammies maia maia&friends mas is ndutipul ndaaah nia nurul nabila nadiah alwi nurnisa nanda nunik nisa pepeng priyayisae pangsit priyadi peluang kerja peluang usaha rhien rahmat aini rini noer review film soni simbok ve triadi tata tikabanget tooopics unai uthie wiedy w@hyu yanti yahya nugroho zam-jogja zawaa

 

Hosted by Jogja Medianet © 2007 ArdiFa