Seperti kebiasaan akhir-akhir ini, jam 5.15 (pagi ya, bukan sore, hehe) klo lagi nggak hujan dan nggak males, saya jogging ringan di sekitar rumah. Rute pastinya sih dari rumah jalan ke barat sampai ketemu Jalan Gejayan, trus ke utara sampe ketemu ringin Soropadan, trus ke arah timur sampe ke Dusun Kaliwaru, setelah itu belok kanan sampe ke Puri Gejayan, trus belok kiri sampe ketemu Selokan Mataram, lewat perempatan deket rumah, trus ke selatan dan muter di Pringwulung (sengaja tak tulis barangkali ada yang mau nemenin saya, hihi). Sejauh ini, selain karena gangguan anjing galak, saya merasa sangat nyaman menikmati 'jongging track' itu. Dengan berlari-lari kecil dan sesekali jalan cepat, waktu tempuhnya pas 1 jam.
Memang sih, klo cuman olahraga super ringan kayak gitu bisa aja dilakuin dari rumah, tapi ada satu hal yang sangat saya sukai saat saya berlari pagi. Saling melambai atau bertukar senyum dengan sesama pelari pagi, sedikit ber-nyuwun sewu dan dibalas dengan 'monggo-monggo' oleh ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, meski kita sama sekali tidak saling kenal, merupakan satu hal yang indah untuk memulai hari. Menularkan semangat positif untuk saya.
Tapi, kejadian pagi tadi sungguh di luar dugaan. Membuat saya pulang ke rumah dalam keadaan uring-uringan. Sebel nggak karuan. Mau marah tapi cuma bisa ditahan. Huh!
Ceritanya, tadi pas ke arah timur dari ringin Soropadan, sebelum masuk ke Puri Gejayan ada jalan yang kiri-kanannya masih sawah. Sepi di situ, dan saya suka sekali menghirup udara pagi di tempat itu. Dari arah yang berlawanan, ada seorang laki-laki dengan pakaian yang sudah tak jelas warnanya, tangan kirinya memegang ujung karung yang dia sampirkan di pundak, sementara tangan kanannya memegang sebuah 'cutik' besi. Saya menyimpulkan bahwa orang itu adalah pemulung. Ya, bertemu dengan pemulung, ataupun mbok-mbok bakul pasar dan bertukar pandang/bahkan kadang senyuman adalah hal yang biasa saya lakukan saat berlari pagi. Termasuk pagi tadi.
Saya melihat orang itu sejak dari jauh. Jalannya aneh dan wajahnya senyum-senyum mencurigakan. Sedikit heran juga, sebab biasanya pemulung berjalan sambil melihat ke bawah, sambil mencari sesuatu yang bisa dia ambil. Tapi pemulung yang ini tidak. Karena itu saya penasaran, dan memperhatikan dia hingga jarak kami makin dekat.
Dan Ya Tuhan! Ternyata resleting celana orang itu dibiarkan terbuka! Dan (maaf) ada sesuatu yang menjuntai di tengahnya. Untungnya tidak terbuka melo-melo, tapi dibungkus semacam kain kaos, kurang lebih seperti koteka, tapi ini ngepas ke 'itu'nya.
Entah sudah seperti apa warna wajahku saat itu. Yang jelas aku langsung meluruskan pandanganku ke depan, dan berlari lebih cepat. Setelah membaca kisah Ana yang harus misuh pagi-pagi gara-gara pengendara AD 4290 CS, aku sama sekali tak menyangka hal yang kurang lebih sama akan terjadi padaku. Doh.
Oke2, ini Indonesia. Koteka memang salah satu pakaian tradisional penduduk Indonesia. Tapi itu kan di Papua sana! Menggunakan koteka di jalanan klo di sana mungkin suatu hal yang biasa, wong memang udah adatnya. Tapi di jalanan Jogja??? Bukan dalam rangka festival kebudayaan juga. Aduuuhhh... Pak Polisiiiiiiiiiiiiii tolong saya dong!
Only registered users can write comments. Please login or register.