by Rossa
Kemaren, ada yang protes, kok puisinya sedih-sedih semua siy? Hihi...trus blio-yang-protes-itu minta dibuatin puisi yang nggak sedih. Wakss, emang puisi bisa dipesen yah? Klo gitu ntar aku buka katering puisi deh, hahaha...
But, protes itu menyadarkan aku, benarkah hidupku sesedih puisiku? (hm, emang yang kayak gitu bisa disebut puisi yak? hmmm klo pun bisa disebut puisi, pasti puisi yang tidak baik dan benar menurut ejaan yang disempurnakan, halah...ngelantur!). Oh noo... aku jadi inget sama ‘semboyan hidup’ yang sempat aku lupakan. Dunia itu indah, jika kita melihatnya dari kaca mata yang indah. Nah loo..., aku jadi malu sendiri, hiks....
Okeh, malem-malem (jam sepuluh lewat), dengan ditemani secangkir protecal-solid, aku mulai ngadepin komputer. Mo bikin puisi
sesuai pesanan dari kaca mata berbeda. Hmm... langkah pertama untuk bikin puisi yang tidak sedih, aku harus bikin suasana hatiku nggak sedih dulu kan? So, aku mulai buka winamp, hapusin semua lagu-lagu cengeng yang biasanya jadi lagu wajib (catet, lagu wajib!), trus mulai pilah-pilih lagu yang ceria-ceria, puter semuanya. Dengerin lagu sambil dekepin buku-diary-merah-gede-yang-sempat-aku-kotakin. Duh... satu lagu, dua lagu, tiga lagu.... kok nggak ada yang bisa bangkitin suasana ceria di hatiku yah? Gawat nggak sih? Hiks...
Tapi, ketika aku mulai bosen dan pilih untuk rebahan, tiba-tiba giliran Rossa nyanyiin lagu Wanita yang Kau Pilih. Deg!!! Aku ulang-ulang terus lagu itu, lalu jadilah dua puisi (klo masih bisa disebut puisi) yang tidak lagi menyedihkan...
aku tempatmu kembali dan
spring in my heart ... dan malam ini, aku tidur dengan membawa senyuman...
Only registered users can write comments.
Please login or register.