Duh, ternyata susah ya menjadi konsumen awam. Karena keterbatasan pengetahuan, kita sebagai konsumen awam mau tak mau harus 'percaya' pada label dari produk yang kita beli. Kalau di kemasan produk tercantum mengandung bahan A misalnya, ya kita berharap memang bahan A itulah yang ada dalam produk tersebut.
Mungkin karena itulah, ternyata masih ada produsen makanan kemasan yang tega mencederai hak kita sebagai konsumen. Entah alasannya apa, tapi hampir pasti karena mengejar keuntungan semata. Abon dan dendeng yang di kemasannya tertulis berbahan daging sapi ternyata ada yang dibuat dari daging babi. Konsumen awam seperti saya tentu tak dapat membedakannya. Apalagi kalau di kemasannya dicantumkan kata 'halal', wah tentu saya semakin tak menyangka.
Berdasarkan sampling dan pengujian terhadap 15 produk dendeng dan 20 produk abon baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan setidaknya 5 produk abon/dendeng babi yang dijual dengan label sapi. Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib mengungkapkan temuan itu di jakarta Kamis kemarin (16 April 2009). Menurutnya, produk berlabel sapi yang mengandung DNA babi adalah:
Dendeng/Abon Sapi Gurih cap Kepala Sapi (250 gram),
Abon & Dendeng Sapi cap LIMAS (100 gram) produksi Langgeng Salatiga,
Abon/Dendeng Sapi Asli cap A.C.C.,
Dendeng Sapi Istimewa Beef Jerky 'Lezaaat' (100 gram) produksi MDC Food Surabaya, dan
Dendeng Daging Sapi Istimewa No. 1 cap 999 (250 gram) produksi S Hendropurnomo Malang.
Di antara produk-produk itu, ada yang mencantumkan label 'halal' di kemasannya. Hal ini jelas-jelas mencederai hak kita sebagai konsumen, yaitu hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang produk pangan yang akan kita konsumsi.
Untuk itu, Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Produk Pangan BPOM Tien Gartini langsung menyampaikan surat rekomendasi kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia agar melakukan tindakan pengamanan terkait masalah itu.
Oiya, menurut BPOM, abon/dendeng daging babi antara lain bisa dikenali dari serat dagingnya yang lebih lembut dan warnanya yang lebih muda dari produk daging sapi. Jadi, yuk kita semakin jeli dan hati-hati.
Only registered users can write comments. Please login or register.