Sejak kemarin, ada orang gila (dalam arti yang sebenarnya) duduk di pinggir jalan di depan rumah. Dia hanya duduk, tanpa ekspresi dan sepertinya tak merasakan teriknya matahari maupun hempasan debu yang ditinggalkan oleh kendaraan yang lalu lalang. Karena merasa iba, seorang tetangga memberinya sebungkus makanan. Si tuanpun memberinya sebotol minuman. Dan saat ada seorang pengemis yang kebetulan melintas, sang pengemis itupun meninggalkan sebungkus makanan untuknya. Semua tak ia pedulikan. Dibiarkan terserak begitu saja di sampingnya.
Ada juga seorang tetangga, yang bila dibandingkan dengan rata-rata tetangga saya, dia bisa dibilang (maaf) miskin. Istri dan anaknya, sehari kadang bisa makan kadang tidak. Para tetanggapun merasa iba, dan mengirimkan makanan secukupnya. Ada pula tetangga yang menawarkan pekerjaan padanya. Tapi apa yang terjadi, tetangga saya itu merasa dihina. Setiap kali istrinya menerima pemberian tetangga (apapun bentuknya), jika sang suami sampai tahu, pasti dimarahin habis-habisan. Begitu juga saat si istri menderita sakit hingga beberapa kali, para tetangga menawarkan untuk membantu membuat Askeskin. Maksudnya, agar setiap kali istrinya sakit, dia bisa diobati di rumah sakit. Namun, upaya para tetangga itu hanya dianggap sebagai pelecehan saja.
Aku sedikit terhenyak. Di antara suara-suara sumbang yang meneriakkan bahwa kepedulian sudah semakin musnah dari bumi ini, aku melihat satu fakta lain. Bahwa sebenarnya kepedulian itu masih ada, masih berputar-putar di antara kita, masih bermain di antara setiap ego kita. Hanya saja, kadang sebagian dari kita tidak mau atau tak mampu menerima dan merasakannya.
Kita tahu sebenarnya masih ada (bahkan banyak) orang yang peduli pada sesama, tapi mungkin yang dipedulikan merasa kepedulian itu belum cukup, untuk itu mereka menganggapnya tak ada. Mereka lebih suka berteriak bahwa tak ada lagi yang mau peduli pada nasibnya, sementara itu mereka tak mau melirik pada kepedulian-kepedulian kecil yang datang dengan tulus untuk memeluknya.
Namun, tak peduli apakah orang yang kita pedulikan menerima atau menolak kepedulian kita, kita tetap harus selalu peduli.
Only registered users can write comments. Please login or register.