"Dan sang pangeran menikahi sang putri. Mereka hidup bahagia selamanya." Hampir selalu itu ending dari cerita yang kita dengar atau kita baca selagi kita masih kecil. Dari sekian kisah perjuangan, penderitaan, dan sebangsanya, hampir selalu pernikahan yang dijadikan pemungkas sekaligus imbalan atas segala kisah pengorbanan. Hampir tak ada kisah selanjutnya. Begitu kedua tokoh cerita berhasil menikah, maka kisah akan usai dengan bahagia.
Tak heran terutama ketika kita remaja, beranggapan bahwa menikah atau setidaknya hidup bersama dengan orang yang kita cintai adalah tujuan yang paling menantang. Masalah yang mungkin terjadi setelah pernikahan, sama sekali tak terpikirkan. Mungkin saat itu sebagian kita menganggap bahwa ketika kita sudah bisa bersatu dengan orang yang kita cintai, maka semua masalah selesai.
Hal itu pula yang mungkin dirasakan oleh seseorang, yang beberapa waktu lalu tiba-tiba nge-buzz dan minta pendapat soal rencananya untuk menikah. Usianya baru 20 lebih sedikit, statusnya dan status calon istrinya masih mahasiswa. Dia dan calonnya itu merasa kalau mereka harus segera menikah karena sudah kadung cinta, toh orang tua juga sudah setuju, masalah sesudahnya bisa dipikirkan bersama.
Saat itu, tentu saya mendukung. Tapi tak lupa saya mencoba memberi sedikit gambaran, bagaimana suasana dalam suatu pernikahan pada umumnya. Saya mencoba menekankan, bahwa ketika kita memutuskan menikah, maka kita juga harus menyiapkan mental baja dan memutuskan untuk mengesampingkan ego selama-lamanya. Mereka bertanya, kenapa? Karena pernikahan itu tak akan selalu berjalan seperti yang mereka bayangkan.
Mereka sedikit tersinggung. Mereka berpendapat, kalau mereka sudah saling mencintai, maka keadaan sepahit apapun akan terasa manis. Menurut mereka, kalimat saya itu sama artinya dengan meragukan ketulusan cinta mereka. Mereka juga berkata, bahwa masing-masing sudah memahami hal terburuk dari pasangannya, dan mereka bisa saling menerima itu.
Saya pun kembali mencoba menjelaskan. Bahwa setiap orang awalnya juga akan berfikir seperti itu. Tapi ketika sudah memasuki gerbang pernikahan, hal-hal kecil yang di waktu pacaran dirasa sebagai angin lalu, bisa jadi hal besar dalam suatu pernikahan. Ketika si suami tiba-tiba minta dibuatkan mie padahal jam sudah menunjukkan angka 11 malam dan si istri sudah setengah tidur di atas bantal, adalah satu hal kecil sekali yang butuh kemampuan pengaturan ego yang luar biasa. Atau ketika si istri meminta diantar jalan-jalan atau belanja berjam-jam, adalah satu hal yang terasa sangat romantis saat masih pacaran, tapi bisa jadi hal yang paling membosankan ketika sudah menikah.
Selama pernikahan berlangsung, akan banyak sekali perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang akan terjadi baik di pihak suami atau istri. Semua menuntut kedewasaan sikap, kesabaran, ke-legowo-an tingkat tinggi. Tak cukup jika hanya mengandalkan cinta yang biasanya membuncah di awal cerita. Bahkan, akan ada banyak sekali kejutan-kejutan yang mungkin tak terpikir sebelumnya.
Seperti soal kebebasan yang mungkin akan dirasakan sangat berkurang. Kalau saat pacaran kita sangat rela kebebasan kita sedikit hilang, saat menikah, bisa jadi kita akan sangat merindukan kebebasan itu. Seperti kebebasan berkutat dengan hobi. Jika saat pacaran mungkin kita memiliki kebebasan waktu untuk bergelut dengan hobi selama berjam-jam, ketika menikah kita harus siap jika kebebasan waktu kita diinterupsi oleh pasangan atau oleh anak-anak. Sekali lagi, perlu keterampilan menahan ego di sini.
Atau, jika sewaktu pacaran kita bisa meluangkan waktu seutuhnya dengan pasangan, setidaknya sehari dalam sepekan, ketika menikah, mungkin waktu seperti itu akan sulit ditemui. Minum teh bersama sambil bercengkrama di sore hari, mungkin akan menjadi hal yang sama sekali tak terpikirkan lagi. Menonton film berdua di 21 mungkin hanya bisa dilakukan beberapa bulan sekali. Karena kita mungkin akan semakin sibuk. Sibuk mengejar impian masa depan bersama, sehingga hal-hal kecil yang sebenarnya bisa memelihara rasa cinta menjadi suatu hal yang dianggap buang-buang waktu saja.
Atau, hal kecil lainnya seperti kebiasaan pasangan meletakkan baju kotor sembarangan, padahal sudah disediakan tempat, suatu ketika bisa menjadi hal yang membuat senewen luar biasa.
Mereka semakin tak suka. Mereka menganggap saya malah menakut-nakuti niat suci mereka. Ah, padahal saya sama sekali tak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin menekankan, agar mereka tak buru-buru menikah hanya karena sudah ingin dan 'merasa' sudah siap. Karena pernikahan bukan sebuah 'happy-ending', tapi sebuah medan pembelajaran hidup tanpa akhir, tempat mengasah kemampuan mengatur ego seumur hidup, tempat melatih kesabaran tanpa batas maksimal, dan sekaligus tempat untuk mengabdikan cinta yang penuh tantangan. Sebuah sekolah kehidupan tanpa jenjang akhir.
Lalu mereka berkata "jadi menurutmu, pernikahan adalah sesuatu yang menyiksa? pasti pernikahanmu tak bahagia."
Duh, ternyata aku memang tak pandai merangkai kata-kata. Buktinya mereka tak mengerti juga.
Pernikahan sama sekali bukan siksaan. Ia hanyalah satu gerbang sangat penting yang didalamnya ada ribuan tantangan. Sama saat kita masuk ke dalam suatu wahana hiburan, jika kita bisa menaklukkan setiap tantangan di dalamnya tentu kita akan menikmatinya. Jadi, kalau saya boleh menyarankan, jangan pernah menikah hanya karena sudah ingin, karena sudah cinta, apalagi hanya karena desakan usia. Karena pernikahan adalah suatu hal yang harus dijalani, bukan hanya dilalui.
Only registered users can write comments. Please login or register.