Menu..
HOME
THE DIARY
FROM MY KITCHEN
MY POEMS
ARTICLES
PHOTO GALLERY
Latest Post..
Popular
Lastest Comments
Cinta yang Sederhana...
bole ga????
bole aku jadiin catatan ga di fb ku???
22/11/09 13:42 More...
By iin

membuat pancake itu mudah!
pertanyaan
kalau pakau susu cair biasa boleh tidak? :?
22/11/09 11:25 More...
By silviana

Tips Kecil Mengatasi Cemburu.....
bagus bukk.... tips nya btw yg kumpulan tipsnya bisa di bag...
21/11/09 13:39 More...
By muki

Selingkuh Emosional? Kenali Ta...
:cry aq dah sedia payung besar,tapi basah kena hujan juga...
19/11/09 19:49 More...
By ratna

sembilan tahun...
9 tahun?
weh meh podo. Aku juga setelah 9 tahun akhirnya menikah :D
19/11/09 11:47 More...
By phery

syndicate..

PageRank

Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory

Blog Directory & Search engine

PlanetBlog - Komunitas Blog Indonesia

Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com

 

 

Nikah, bukan sekedar soal ingin dan cinta Print E-mail
Written by Fanya Ardianto   
Wednesday, 17 December 2008
"Dan sang pangeran menikahi sang putri. Mereka hidup bahagia selamanya." Hampir selalu itu ending dari cerita yang kita dengar atau kita baca selagi kita masih kecil. Dari sekian kisah perjuangan, penderitaan, dan sebangsanya, hampir selalu pernikahan yang dijadikan pemungkas sekaligus imbalan atas segala kisah pengorbanan. Hampir tak ada kisah selanjutnya. Begitu kedua tokoh cerita berhasil menikah, maka kisah akan usai dengan bahagia.
 
Tak heran terutama ketika kita remaja, beranggapan bahwa menikah atau setidaknya hidup bersama dengan orang yang kita cintai adalah tujuan yang paling menantang. Masalah yang mungkin terjadi setelah pernikahan, sama sekali tak terpikirkan. Mungkin saat itu sebagian kita menganggap bahwa ketika kita sudah bisa bersatu dengan orang yang kita cintai, maka semua masalah selesai.
 
 
Hal itu pula yang mungkin dirasakan oleh seseorang, yang beberapa waktu lalu tiba-tiba nge-buzz dan minta pendapat soal rencananya untuk menikah. Usianya baru 20 lebih sedikit, statusnya dan status calon istrinya masih mahasiswa. Dia dan calonnya itu merasa kalau mereka harus segera menikah karena sudah kadung cinta, toh orang tua juga sudah setuju, masalah sesudahnya bisa dipikirkan bersama.
 
Saat itu, tentu saya mendukung. Tapi tak lupa saya mencoba memberi sedikit gambaran, bagaimana suasana dalam suatu pernikahan pada umumnya. Saya mencoba menekankan, bahwa ketika kita memutuskan menikah, maka kita juga harus  menyiapkan mental baja dan memutuskan untuk mengesampingkan ego selama-lamanya. Mereka bertanya, kenapa? Karena pernikahan itu tak akan selalu berjalan seperti yang mereka bayangkan.
 
Mereka sedikit tersinggung. Mereka berpendapat, kalau mereka sudah saling mencintai, maka keadaan sepahit apapun akan terasa manis. Menurut mereka, kalimat saya itu sama artinya dengan meragukan ketulusan cinta mereka. Mereka juga berkata, bahwa masing-masing sudah memahami hal terburuk dari pasangannya, dan mereka bisa saling menerima itu.
 
Saya pun kembali mencoba menjelaskan. Bahwa setiap orang awalnya juga akan berfikir seperti itu. Tapi ketika sudah memasuki gerbang pernikahan, hal-hal kecil yang di waktu pacaran dirasa sebagai angin lalu, bisa jadi hal besar dalam suatu pernikahan. Ketika si suami tiba-tiba minta dibuatkan mie padahal jam sudah menunjukkan angka 11 malam dan si istri sudah setengah tidur di atas bantal, adalah satu hal kecil sekali yang butuh kemampuan pengaturan ego yang luar biasa. Atau ketika si istri meminta diantar jalan-jalan atau belanja berjam-jam, adalah satu hal yang terasa sangat romantis saat masih pacaran, tapi bisa jadi hal yang paling membosankan ketika sudah menikah.
 
Selama pernikahan berlangsung, akan banyak sekali perubahan-perubahan sikap dan perilaku yang akan terjadi baik di pihak suami atau istri. Semua menuntut kedewasaan sikap, kesabaran, ke-legowo-an tingkat tinggi. Tak cukup jika hanya mengandalkan cinta yang biasanya membuncah di awal cerita. Bahkan, akan ada banyak sekali kejutan-kejutan yang mungkin tak terpikir sebelumnya.
 
Seperti soal kebebasan yang mungkin akan dirasakan sangat berkurang. Kalau saat pacaran kita sangat rela kebebasan kita sedikit hilang, saat menikah, bisa jadi kita akan sangat merindukan kebebasan itu. Seperti kebebasan berkutat dengan hobi. Jika saat pacaran mungkin kita memiliki kebebasan waktu untuk bergelut dengan hobi selama berjam-jam, ketika menikah kita harus siap jika kebebasan waktu kita diinterupsi oleh pasangan atau oleh anak-anak. Sekali lagi, perlu keterampilan menahan ego di sini.
 
Atau, jika sewaktu pacaran kita bisa meluangkan waktu seutuhnya dengan pasangan, setidaknya sehari dalam sepekan, ketika menikah, mungkin waktu seperti itu akan sulit ditemui. Minum teh bersama sambil bercengkrama di sore hari, mungkin akan menjadi hal yang sama sekali tak terpikirkan lagi. Menonton film berdua di 21 mungkin hanya bisa dilakukan beberapa bulan sekali. Karena kita mungkin akan semakin sibuk. Sibuk mengejar impian masa depan bersama, sehingga hal-hal kecil yang sebenarnya bisa memelihara rasa cinta menjadi suatu hal yang dianggap buang-buang waktu saja.
 
Atau, hal kecil lainnya seperti kebiasaan pasangan meletakkan baju kotor sembarangan, padahal sudah disediakan tempat, suatu ketika bisa menjadi hal yang membuat senewen luar biasa.
 
Mereka semakin tak suka. Mereka menganggap saya malah menakut-nakuti niat suci mereka. Ah, padahal saya sama sekali tak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin menekankan, agar mereka tak buru-buru menikah hanya karena sudah ingin dan 'merasa' sudah siap. Karena pernikahan bukan sebuah 'happy-ending', tapi sebuah medan pembelajaran hidup tanpa akhir, tempat mengasah kemampuan mengatur ego seumur hidup, tempat melatih kesabaran tanpa batas maksimal, dan sekaligus tempat untuk mengabdikan cinta yang penuh tantangan. Sebuah sekolah kehidupan tanpa jenjang akhir.
 
Lalu mereka berkata "jadi menurutmu, pernikahan adalah sesuatu yang menyiksa? pasti pernikahanmu tak bahagia."
 
Duh, ternyata aku memang tak pandai merangkai kata-kata. Buktinya mereka tak mengerti juga.
 
Pernikahan sama sekali bukan siksaan. Ia hanyalah satu gerbang sangat penting yang didalamnya ada ribuan tantangan. Sama saat kita masuk ke dalam suatu wahana hiburan, jika kita bisa menaklukkan setiap tantangan di dalamnya tentu kita akan menikmatinya. Jadi, kalau saya boleh menyarankan, jangan pernah menikah hanya karena sudah ingin, karena sudah cinta, apalagi hanya karena desakan usia. Karena pernikahan adalah suatu hal yang harus dijalani, bukan hanya dilalui.

Only registered users can write comments.
Please login or register.


Quote this article on your site | Views: 1807

  Comments (20)
RSS comments
 1 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 10:28 , IP: 116.197.133.140
pernikahan adalah sunat nabi jadi pendapat orang itu beda2 semua itu dilewati karena ad sebab musababnya
 2 meong
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 10:57 , IP: 114.58.66.190
wah, saya suka tulisan ini ! 
 
jujur dan benar apa adanya.  
 
menurutku, teman mbak fa itu hanya belum siap ketika dibukakan dg kebenaran. dia hanya mendengar apa yang ingin dia dengar. justru itu malah membuatku khawatir, bagaimana dengan kesiapan mental mereka menghadapi kehidupan pernikahan ? 
 
hehe, sdkt curcol, salah satu yang membuatku lambat menapak ke jenjang pernikahan, adalah hal-hal yang mba fa sebutkan di atas. justru krn tahu, bhw kehidupan pernikahan bukanlah dongeng, tp realitas yang harus dihadapi dan dijalani (i love your quotes) dan itu membutuhkan kedewasaan yang sesungguhnya, membuatku agak takut dan sedikit males untuk menikah :grin :grin  
 
memang bener, pernikahan adl separuhnya ibadah, krn dlm kehidupan pernikahan, jiwa kita digembleng habis2an untuk makin menyingkirkan ego. belum lagi jika punya anak. sebenarnya, jauh lebih mudah hidup tidak menikah, hehehe.  
 
kl cuma mikir enaknya aja, nikah terlihat sbg penyelesaian masalah. 
aha ! itu dia, kebanyakan memandang menikah sbg penyelesaian masalah. pdhl, setelah menikah ga menjamin semua masalah akan selesai, justru timbul masalah2 baru. 
 
keknya, temen mba fa itu terlalu naif memandang cinta. bahwa cinta itu sendiri benernya ga kekal, dia bisa turun naik, lenyap dan muncul menggebu2. 
 
ehehehe, duh komennya jd panjang bener gini. 
but i love this post....
 3 petuah bagus!
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 11:53 , IP: 202.43.165.158
hohoh.. petuah yang bagus, mbak! 
 
anak usi 20 an emang begitu. sok tau dalam urusan pernikahan.. 
 
*menjura ke mbak Fa*
 4 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 12:37 , IP: 82.139.114.224
Yeah ... ini seperti nasihat para pengajar di kursus perkawinan bersertifikat dulu. Syarat untuk bisa mendaftarkan diri untuk menikah. 
 
But, I do agree!
 5 Nikah, cape nggak sih?
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 13:37 , IP: 125.160.123.149
Mbakyu,  
Sampai sekarang aku belum menemukan alasan yang kuat untuk menikah :mrgreen: 
Rasanya masih jauh aja gitu..  
 
Nikah itu, ngerepotin nggak sih?
 6 ah anak muda... ;)
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 17-12-2008 16:12 , IP: 124.195.113.33
*walah komenku barusan ilang* 
 
...anak muda emang gitu, Fa, hihihihi...
 7 tes gw stupid lagi ga?
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 18-12-2008 00:45 , IP: 117.103.170.3
yupe..betol banget nih tulisan, kata2mu dah rapi bagus dan sarat makna. sayang temenmu itu sudah tertutup oleh cinta . jadi kurang respon trhadap nasehat2 yg baik.
 8 ---
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 18-12-2008 07:17 , IP: 202.169.225.5
@Iprit: aaahhh... jangan fast-reading dong :roll  
 
@Meong: syukurlah, akhirnya ada yg 'mengerti' juga, nah, buat Iprit, baca komen Memed ini aja deh ya... :grin  
 
@Zam: menjura ki jan2e opo to Mas? :grin  
 
@DosenGila: waduh, tapi saya ndak bersertifikat lho PakDos :grin  
 
@Dita: repottt banget Non, tapi nyenengin, asli! *bukan ngiming2i lho* :roll  
 
@MbakDew: besok dicopy dulu ya Mbak, komen di sini memang suka aneh *seaneh orangnya kali* :grin  
 
@Nirmana: ya ya... kadang orang memang bisa buta karena cinta ya? ;)
 9 brava!!!
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 18-12-2008 09:25 , IP: 167.205.22.104
hemm..salam kenal Mbak Fa! :yeah: 
 
saya seneng banget dengan postingan Mbak. Kenapa? karena kayaknya sekarang makin banyak darah muda yang menggebu-gebu mau nikah tanpa mikirin konsekuensi pernikahan itu sendiri.  
 
ibu saya aja pernah bilang : nikah itu nggak seindah yang kamu bayangkan... 
 
well. i've seen that fact, by the way 
 
butuh usaha keras untuk menjalankan pernikahan, hati yang lapang juga. komitmen yang amat sangat kuat. 
 
dan apakah darah muda-darah muda ini udah tau tentang itu, memiliki itu? i don't think so.. 
 
namanya juga darah muda... :grin  
 
nikah gak cuma tentang cinta, penyatuan dua hati, seks, dan punya anak 
 
it's BEYOND that...sayang sekali makna ini udah memudar, menurut saya.
 10 Artikel bagus
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 22-12-2008 12:15 , IP: 124.195.55.9
saya suka dengan artikel ini, bagus banget. meskipun "lawan debat" mbak nggak ngerti juga... 
 
Coba dikasih pengandaian lagi... 
 
bayangkan kalo dia belum punya pekerjaan (penghasilan)... trus punya anak... padahal bayi itu kebutuhannya mahal banget... belum lagi kalo anak sudah masuk TK... ya, minta ini minta itu.. banyak deh... 
 
Selain siap mental, fisik, jasmani, rohani, saya pikir kita harus punya modal juga untuk menikah... 
 
Terima kasih
 11 ---
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 22-12-2008 20:16 , IP: 202.169.225.5
@Laila: salam kenal juga! :grin betul, nikah memang tak sesederhana itu ;)  
 
@Rasyid: mereka sih berpegang pada prinsip "rejeki sudah ada yg mengatur", padahal menurutku, kalimat itu tak bisa diartikan secara harfiah begitu saja :roll
 12 kita satu kotak, mbak..
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 09:28 , IP: 202.151.9.53
sayah juga heran ituh kalo ada yang bilang : 
"nikah biar hidup stabil, tik.." 
"nikah tik, ingat umur.." 
"nikah tik, biar tenang.." 
 
dikiranya hidup abis nikah itu isinya pesiar mulu apa ya.. 
 
*gak abis pikir*
 13 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 09:59 , IP: 114.58.81.8
pengen banget segera nikah.. 
 
ada yg mau dgn saya? 8)
 14 thanks....
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 10:09 , IP: 202.151.9.53
yap. 
dulu penah niat pengen nikah muda. 
tapi semakin nambah umur, kerasa banget, kalo nikah emang bukan sekedar buat hidup bareng, berbahagia sejahtera selamanya. 
dan itu yang mengurungkan niatku buat nikah muda. :P 
siap kehilangn ego (yang notabene sampe sekarang aku masih sangt blom bisa), itu hal utama yang kayana sulit banget. bener2 harus dipersiapkan. menjaga komitmen bersama itu sepertinya lebih utama dalam sebuah pernikahan. 
kedewasaan, jadi tools utama. 
 
thanks for the lesson, mam.. :)
 15 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 10:35 , IP: 114.58.67.87
menurutku mereka ngebet nikah karena orangtua mereka memberi contoh bahwa kehidupan pernikahan orang tua mereka berjalan baik. jadi mereka ter mindset kalo menikah itu akan seperti kedua orang tua mereka, berjalan mulus. 
dan mereka terlalu jarang melihat orang2 yang nikahnya gagal. kayaknya mereka butuh banyak nonton inpotenmen ama sinetron de :D 
 
oh betewe sudah nyoba tanya gini : "apa yang menjamin cintamu padanya tidak akan habis? dalam pernikahan cinta cuma berlaku selama 1 tahun, sisanya, lloyalitas, kewajiban."
 16 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 10:53 , IP: 124.81.239.114
jempol papat mbak ...
 17 ---
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 23-12-2008 21:13 , IP: 202.169.225.5
@TikaBanget: makanya jangang dipikir biar ndak habis Tik! *klo bilang, makanya cepetan lulus Tik.... bolehkan?* hihihi 
 
@Senafal: lah, kok kemaren nolak Choro? :grin  
 
@Sita: sama-sama NAK 8)  
 
@Choro: wah, aku wes males ngandani nek wes ngeyel ngono kui *eh, ngerti ndak?* :grin  
 
@Mbilung: pake jempol kaki apa jemppol mbak Jeni Pakdhe? :D
 18 Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it , on 31-12-2008 21:59 , IP: 125.162.61.235
Nice... 
Dlm Islam, hukum nikah ada 5,salah satunya WAJIB. 
Bisa dijelaskan dalam 5W 1H alasan nikah WAJIB hukumnya? 
Makasih
 19 ---
Written by This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it website, on 01-01-2009 01:16 , IP: 202.169.225.5
@Guntur: mungkin saya tidak bisa menjelaskan dlm format 5W 1H seperti yg Anda minta, tapi saya coba menjawab dengan bahasa saya saja (eh tapi, kenapa yang ditanya cuma yang wajib?) 
klo saya nggak salah ingat, hukum nikah menjadi wajib, apabila seseorg itu mampu menikah dan dia khawatir berzina. Hukun nikah menjadi sunnah apabila seseorg mampu dan tidak kuatir berzina. Nikah menjadi mubah bila org itu mampu, tidak kuatir berzina/aman dari fitnah tetapi tidak membutuhkannya. Dan nikah menjadi haram apabila org itu tidak mampu dan tidak kuatir berzina. 
 
cmiiw.
 20 Written by yusuf, on 08-03-2009 14:21 , IP: 125.164.212.9
8) :p :grin :) :roll :eek :upset :zzz :sigh :x :( :cry :?
 
Next >

 
 
Owner..

Just a Simple Fa!

Fa - Yogyakarta

Love Kitty. Love Chocolate.

Love You.

Best View..

on 1024 x 768 pixel

with Latest Version of

Mozilla Firefox

& Opera

 

-

We have 37 guests online
Your IP Address: 38.107.191.103
Total Visitors: 1151782
Best Promo

Fa's Blog
Dari Dapur
Play with Fa
WideMart

 

   

Hosted by Jogja Medianet © 2007 ArdiFa