Puting Beliung di Jogja, Seharusnya Kita Belajar Bersimpati Bukan Menghakimi
Written by Fanya Ardianto
Saturday, 08 November 2008
Kemarin, sebenarnya cuaca di sekitar rumah (sekitar selokan mataram) bisa dibilang cukup cerah. Salah satu indikator (menurut saya) adalah cucian bisa kering semua, hehe. Tapi sekitar pukul 14.00 mendung mulai memayungi, semakin lama semakin pekat, dan sekitar jam 14.50 hujan mulai mengguyur dengan derasnya. Saya masih duduk manis di depan komputer saat itu. Menyelesaikan beberapa tampilan blog yang masih amburadul. Beberapa saat kemudian, sebait lagu 'Atas Nama Cinta' milik Rossa mengalun dari handphone yang ada di samping meja. Nama si tuan tampil di layarnya.
Si tuan memintaku agar mematikan seluruh aliran listrik di rumah. Dari mulai meng-off-kan MCB sampai mencabut semua stop kontak yang ada di rumah. Beliau bilang kantornya diamuk puting beliung. Si tuan kuatir angin itu akan menjangkau rumah yang berjarak hanya sekitar 10 menit perjalanan dengan motor.
Saya baru sadar, kalau hujan deras yang mengguyur saat itu juga disertai angin kencang. Saya mulai dihinggapi kekuatiran, meski saat itu saya merasa cukup lega karena si tuan nggak kenapa-kenapa. Saat hujan dan angin reda sekitar pukul 16.00, saya memutuskan untuk melihat kondisi si tuan dan kantornya. Masyaallah, dari depan RS. Sardjito saja saya sudah merinding rasanya. Puluhan pohon tumbang menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Tak peduli itu gerobak pedagang kaki lima sampai mobil yang masih mengkilap catnya. Beberapa atap gedung juga hilang entah kemana. Serpihan dedaunan, kayu-kayuan, kaca, eternit bertebaran di mana-mana. Dan kondisi bangunan kantor si tuan juga tak jauh dari keadaan di sekitarnya. Sebuah tower ambruk menimpa bangungan utama dan dua mobil di parkiran, satu mobil kantor dan yang satu mobil pelanggan yang saat itu datang untuk melakukan pembayaran. Wilayah Bulaksumur yang dulu rindang itu, kini menjadi terang karena puluhan pohon tumbang. Beberapa malah seperti digunduli oleh alam, cabang, ranting dan daunnya hilang dan hanya menyisakan batang. Saya menarik nafas panjang, berkali mengucapkan istighfar. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tak ada apapun yang bisa menghalanginya.
Namun, di saat seperti ini, ternyata masih ada orang yang lebih memilih menghakimi, daripada sekedar bersimpati. Saya mendengar beberapa kalimat, bahwa puting beliung itu salah satu bentuk hukuman untuk UGM yang katanya sekarang tidak lagi berpihak pada rakyat. Kalau memang iya, lalu bagaimana dengan yang di sekitar UGM, seperti kantor si tuan tadi misalnya. Lagipula, kalau itu memang hukuma untuk UGM, kenapa hanya sebagian UGM saja yang terkena? Saya jadi teringat pada beberapa kasus bencana yang menimpa tanah air ini, dari mulai sunami di aceh beberapa tahun silam. Banyak komentar senada yang pernah saya dengar. Begitu mudahnya beberapa dari kita menerjemahkan bencana sebagai hukuman. Begitu mudahnya beberapa dari kita menghakimi sesuatu menjadi sebuah kesalahan. Beberapa dari kita menyerukan agar yang terkena bencana segera ber-introspeksi, tapi kita lupa bahwa instrospeksi seharusnya dimulai dari diri sendiri. Salah satu komentar seperti itu, bisa Anda lihat di web Momon , ketua kelas CahAndong.
Yah, beberapa dari kita yang berpendapat bahwa bencana adalah sebuah hukuman, mungkin memang ada benarnya. Tapi kita harus ingat, Tuhan menurunkan bencana tidak hanya sebagai bentuk hukuman, tapi juga sebagai ujian. Kalaupun kita ingin mengingatkan pihak-pihak yang terkena bencana agar segera melakukan introspeksi, seharusnya kita bisa mengutarakannya dengan cara atau kalimat yang simpatik. Bukan dengan kalimat yang terkesan 'menghakimi' apalagi 'nyukurke'. Karena sesungguhnya kita tak pernah tahu, bencana yang sama akan menimpa kita atau tidak. Dan seandainya kita yang tertimpa bencana, lalu ada orang yang berkata "itu pasti gara-gara kebanyakan dosa", tentu akan sakit sekali rasanya.
Mari kita menanggalkan ego dan kesombongan, jangan selalu merasa lebih benar. Mari kita belajar bersimpati kepada sesama yang sedang diberi cobaan.