Jogja Java Carnival - Even Internasional yang Mengecewakan
Written by Fanya Ardianto
Monday, 27 October 2008
Sejak membaca informasi di Kedaulatan Rakyat bahwa sebagai puncak peringatan hari jadi Kota Jogja yang ke-252 akan diadakan sebuah even akbar berupa karnaval, saya mulai menghitung hari. Even yang katanya juga dimeriahkan oleh delegasi beberapa negara lain itu, membuat saya tak ingin melewatkannya begitu saja. Saya membayangkan, even ini akan jauh lebih hebat dari Solo Batik Carnaval yang telah sukses diadakan beberapa waktu lalu (di Solo tentunya).
Jogja Java Carnival 2008, gaungnya saja sudah membuat hati saya berdebar-debar. Sebuah even berkelas internasional dengan panggung berjalan selebar 5 meter yang akan menyuguhkan atraksi kesenian dan budaya di sepanjang Jalan Malioboro dan dengan didukung tata lampu profesional, sungguh membuat saya tak sabar menanti datangnya hari Sabtu, 25 Oktober 2008, hari di mana acara itu akan dilangsungkan.
Saya datang ke lokasi acara hampir tepat pukul 4 sore. Sudah banyak masyarakat yang ada di sana dan mencoba mencari posisi yang paling tepat agar dapat menyaksikan karnaval dengan nyaman. Termasuk saya dan seorang teman yang waktu itu memang sengaja meluangkan waktu untuk menyaksikan acara itu bersama-sama. Saat itu, saya perhatikan tak banyak orang yang saya anggap panitia (yang memakai kaos putih bergambar logo Jogja Java Carnival) berseliweran. Begitu pula dengan polisi, petugas keamanan, atau siapapun yang saya kira akan mengawal jalannya acara. Jalan malioboro juga masih leluasa dilewati kendaraan.
Semakin gelap, masyarakat semakin memenuhi lokasi. Tak ada petugas yang saya lihat berupaya menertibkan masyarakat. Bahkan sampai pukul 6 sore lewatpun, jalan Malioboro belum ditutup, dan masyarakat yang semakin banyak berdatangan masih leluasa menempati posisi yang mereka anggap strategis. Seperti di depan tribun utama, di tribun pers, di atas panggung kecil tempat kemera TVRI hingga di badan jalan (termasuk saya yang akhirnya ikut-ikutan turun ke badan jalan). Saya mulai heran dan bertanya-tanya "lho, kok gini?"
Sekitar pukul 7 malam, barulah saya lihat jalan mulai ditutup, beberapa petugas dengan seragam hitam dan membawa tongkat mulai berdatangan ke sekitar tribun utama, disusul kemudian sekelompok polisi wanita. Tak berapa lama, terdengar himbauan panitia yang meminta masyarakat untuk tidak menempati depan tribun utama, panggung gamelan dan sisi timur jalan. Panitia itu juga meminta agar petugas keamanan mulai menertibkan masyarakat. Tapi apa yang saya lihat? Beberapa petugas yang kebetulan ada di depan saya, tak mengindahkan himbauan itu. Apalagi masyarakatnya :D. Himbauan itu terdengar beberapa kali, sampai kemudian saya mendengar sedikit 'ancaman' dari panitia bahwa kalau masyarakat tidak bisa bekerjasama makan acara tidak akan dimulai, hihi. Geli saya mendengarnya, serasa nonton karnaval tingkat kampung saja :D
Dan bisa ditebak akhirnya, karnaval itu berjalan begitu apa adanya. Peserta karnaval hanya bisa beratraksi di depan tribun utama (itupun kurang leluasa karena jalan tetap dijejali penonton). Panggung berjalan yang lebar-lebar itu, terpaksa tersendat-sendat jalannya, diselingi dengan bentakan-bentakan dari petugas yang mendorong panggung dan bentakan balasan dari penonton yang hampir terlindas kakinya.
Ya, saya memang belum pernah mengorganisir acara sebesar itu. Saya tahu, pasti tak mudah. Hanya saja, menurut saya seandainya panitia bisa mempersiapkan lokasi lebih awal, mungkin tak akan begitu jadinya. Misalnya saja, dengan menutup jalan lebih awal, lalu di sepanjang jalan malioboro di beri tali pembatas yang dijaga oleh beberapa petugas. Sehingga jika ada penonton yang melewati batas itu, bisa segera ditegur dan diberi tahu bahwa batas penonton hanya sampai di trotoar.
Lalu tentang peserta karnaval. Saya bertanya-tanya dalam hati. Even ini pasti ada dananya kan? Lalu kenapa karnaval ini seperti menunjukkan kesenjangan sosial? Apa panitia atau penyelenggara tidak memberi batasan standar performa peserta? Maksud saya begini, setelah beberapa buah panggung berjalan yang cukup wah, tiba-tiba muncul satu kelompok yang terlihat begitu sederhana. Mereka adalah perwakilan dari Brajamusti, suporter PSIM. Mohon maaf, tanpa bermaksud menyinggung siapapun, menurut saya kostum Brajamusti yang hanya terdiri dari kertas karton yang dilapisi kertas berwarna emas itu, mengingatkan saya pada kostum peserta karnaval 17-an di kampung saya, saat saya masih SD.
Dan yang terakhir, tentang fotografer. Di beberapa blog tetangga, ada desas desus yang cukup membuat panas telinga fotografer. Katanya, menurut panitia, yang paling susah diatur adalah fotografer, bahkan 'masih katanya' fotografer sekarang tidak punya attitude.
Duh, bukan karena si tuan juga fotografer, tapi memang mencari kambing hitam jauh lebih mudah daripada ber-introspeksi. Kalau saja panitia itu mau sedikit lebih smart, tentu dia tak perlu melontarkan kalimat itu. Karena se-ngawur-ngawurnya tukang foto, bukan tidak mungkin mereka bisa diatur dan dikoordinir sedemikian rupa, sehingga yang tadinya dianggap 'lawan' bisa jadi 'kawan'. Misalnya, lakukan indentifikasi fotografer jauh-jauh hari sebelumnya. Para fotografer diharuskan mendaftarkan diri pada panitia jauh hari sebelum hari-H, lalu siapkan spot -spot khusus untuk menampung para fotografer itu, di beberapa titik ruas jalan yang tentu saja memungkinkan mereka mengambil gambar dengan leluasa tapi juga tak mengganggu jalannya acara.
Ah, tapi itu semua hanya menurut saya. Saya yang begitu kecewa, karena even yang saya pikir akan membanggakan ini berjalan hanya begitu saja. Sigh.