BBM akhirnya bener-bener naik lagi. Oke, mau nggak mau, terima nggak terima, keputusan itu tetap harus ditelan bulat-bulat. Toh saya ini bisa apa? Buat saya pribadi, kenaikan BBM sebesar itu tidak terlalu menjadi masalah (toh saya ini orang rumahan yang jarang mobile). Tapi berhubung kenaikan BBM pasti diikuti oleh kenaikan harga hampir semua barang pemenuh kebutuhan baik yang pokok maupun tidak, maka dapat dipastikan kenaikan yang 'tidak seberapa' itu bisa menggoyang-goyang cashflow bulanan saya.
Lalu ketika mendengar pendapat salah satu pengamat ekonomi yang mengatakan, kalau saja pemerintah sukses melaksanakan program-program efisiensi dan memaksimalkan pendapat APBN seperti yang telah direncanakan pada tahun 2005, kenaikan BBM saat ini bisa ditekan. Saya tiba-tiba menjadi sakit hati. Karena 'ketidakmampuan' pemerintah selama 3 tahun belakangan, sekarang masyarakat (termasuk saya kan?) harus membayar ganti rugi. Bagus sekali.
Trus, saya juga heran sekali sama kebijakan-kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Tadi saya dengar berita, pencairan BLT ditunda tiba-tiba, padahal masyarakat yang sudah memiliki kartu BLT sudah berbondong-bondong ke kantor pos besar. Ngantri sejak dini hari. Mereka diminta pulang. Dan malam ini, menko kesra memastikan besok BLT bisa dicairkan. Itu artinya, mereka harus datang kembali esok hari. Iya kalau rumah mereka dekat, kalau rumah mereka jauh dari kantor pos, yang misalnya harus menaiki gunung menuruni lembah terlebih dahulu, gimana? Mereka harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit (menurut mereka) hanya untuk mengambil BLT yang bisa jadi tak mereka terima sesuai nominal yang tertera. Ngatur negara kok kayak ngatur RT saja. Apa ya orang-orang pinter itu nggak belajar dari program konversi minyak tanah ke gas yang kacau balau bin amburadul itu? Atau dari program-program lain yang seperti asal jadi dan bisa berubah sewaktu-waktu. Kali ini ngatur negara kok kayak ngatur hajatan keluarga saja.
Ah, sudahlah. Saya memang tidak tahu apa-apa soal mengurus negara, mungkin memang negara yang isinya orang-orang kayak saya ini susah sekali diurus. Sigh.
Only registered users can write comments. Please login or register.