Beberapa hari dalam minggu kemarin, aku sempat sok sibuk di dapur. Bukan kenapa-kenapa, tapi sudah terlanjur penasaran saja. Penasaran sama yang namanya pisang, lebih tepatnya sih lagi berusaha mengintimidasi si pisang, agar dia bisa menjelma menjadi kue kering! (ini pisang loh yang saya bicarakan, bukan tepung pisang apalagi keripik pisang).
Cerita ini bermula, ketika malem Rabu kemarin Bu RT ke rumah, ngasih tau klo ada lomba masak dan blio pengen aku yang maju mewakili Dukuh Soropadan, bahan dasarnya harus pisang dan kebetulan RT. 10 -di mana aku tercatat sebagai warga- kebagian tugas bikin kue kering. Langsung aja aku sambut tawaran itu, soal resep mah gampang, slama masih bisa ngasih order om gugel.
Malem itu juga, aku langsung browsing, nyari resep kue kering yang berbahan dasar pisang. Kebanyakan yang nongol malah resep cake, cup cake dan sejenis bolu. Nyoba ngutak atik kata kunci, yang muncul tetep itu-itu aja. Baru sadar deh, ternyata nggak semudah yang aku bayangkan. Sampai akhirnya ketemu 2 resep kue kering, yang satu pake tepung pisang dan yang satu pake pisang yang dilumatkan. Karena aku pikir yang pake tepung pisang akan lebih renyah, maka aku putuskan untuk mencobanya. Tapi sayang, cari tepung pisang di Jogja susah! Hiks...
Karena hari yang tersisa tak seberapa, aku putusin untuk membuat resep yang kedua. Pas dipanggang, aroma pisangnya luar biasa. Pas masih hangat, renyahnya begitu menggoda. Tapi keesokan paginya, meski udah dimasukin di TupperWare, kok jadi melempem plus alot/keras! Ugh...
So, aku putusin untuk mencoba meracik sendiri. Jurus ngawur andalan terpaksa dikeluarkan. Aku membayangkan, pisang paling enak dimakan sama cokelat dan keju. Tapi karena peraturan panitia lomba mengatakan bahwa harga bahan tidak boleh lebih dari 15 ribu, aku terpaksa menyingkirkan keju dari bayangan. Dalam hati aku berfikir, yang namanya kue kering pasti nggak lepas dari terigu, mentega, gula ditambah bahan dasar yang ditentukan panitia, yaitu pisang. Sempat terpikir kalau pisangnya dijadikan topping saja, tapi sekali lagi terbentur peraturan bahwa komposisi bahan dasar dibanding bahan tambahan adalah 50 : 50.
Setelah empat kali mencoba mengutak-atik komposisi bahan-bahan tersebut dan itu artinya yang tiga gagal meski tak total, akhirnya aku menemukan komposisi yang paling masuk akal. Rasanya juga cukup memuaskan, seperti memakan sele pisang dalam bentuk kukis plus bonus rasa gula palem dan cokelat! Tinggal satu yang menurutku kurang, yaitu kurang renyah, meski udah ditambahin perenyah. Tapi justru di situlah daya tariknya, karena pisangnya terasa sekali. Apalagi kalau ditambah esense pisang, aromanya saja sudah nendang-nendang *halah, apaan seh?* Kue ini aku beri nama Kue Kering Pisang Choco-chip atau nama kerennya Banana Choco-chip Cookies. Kue ini nggak sempurna-sempurna amat sih, cuma aku lumayan puas aja. Kue ini benar-benar lahir dari seorang pemula banget! Hihi..
Lalu aku memikirkan kemasan (karena packing juga menjadi salah satu poin yang dinilai). Aku pikir, kue kering pisangku ini harus tampil sederhana tapi elegan *halah, bahasane rek!* maka aku pilih tema batik. Toples plastik biasa yang diselimuti batik, dan beberapa kotak kecil terbungkus batik untuk tempat kue yang akan dicicipi para dewan juri (batiknya batik kertas kok, bukan kain, hehe).
Jadilah hari Minggu kemarin aku melangkah dengan pede ke kelurahan, tentu saja bersama bu RT dan disambut Bu Dukuh (karena mewakili Dukuh). Tapi, begitu sampai di arena, nyaliku langsung ciut seciut-ciutnya. Meja peserta lain sedemikian hebohnya! Tatanan meja mereka seperti tatanan meja di hotel-hotel berbintang. Sementara aku dan Bu RT, hanya membawa satu taplak meja!
Keringat dingin mulai menetes di pagi yang panas. Bukannya aku terobsesi pengen menang, aku hanya kuatir, takut terlalu membuat kecewa apalagi membuat malu orang-orang yang telah mempercayai aku. Jujur, baru kali ini aku ikutan lomba masak. Aku pikir tak perlu menata meja segala. Aku pikir meja sudah ditata sedemikian rupa oleh panitia. Akhirnya Bu RT memutuskan untuk kembali ke rumah, mengambil beberapa pernak-pernik meja sementara aku menjaga 'hasil karya'.
Syukur Alhamdulillah, penampilan meja kami akhirnya tak terlalu 'kebanting'. Dan aku (plus tim) lumayan bisa menegakkan muka saat acara penilaian berlangsung. Dan sungguh tanpa dinyana, kami bisa mengantongi juara 2 dan berhak mewakili kelurahan ke tingkat kecamatan. Fiuh! Akhirnya aku bisa bertatapan dengan Bu Dukuh tanpa ada beban.
Salah satu pelajaran yang bisa ku petik di sini, ternyata membawa nama orang lain (atau nama kampung) cukup berat juga. Kalau saja saat lomba itu aku hanya membawa namaku, mungkin aku tak terlalu berkeringat. Oiya, klo ada yang butuh resepnya dan pengen nyoba, klik aja di sini! Semoga bermanfaat.
Only registered users can write comments. Please login or register.