Tanggal tujuh bulan April tahun dua ribu satu, seseorang yang semakin spesial membawakanku sebuah buku tebal bersampul merah. Buku itu kemudian aku beri nama diary-merah, karena memang aku berniat menggunakannya untuk menuliskan berbagai perasaan dan harapan, terutama yang berhubungan dengan kisah cintaku yang pertama dan satu-satunya. "God, please give us a way..." adalah harapan pertama yang aku goreskan dalam buku itu.
Niat awalnya, aku ingin menuliskan semua yang aku alami, hari-hari baruku bersama 'cinta' yang baru beberapa bulan aku rasakan. Saat itu aku ingin, kelak di suatu hari, buku itu akan selalu mengingatkanku pada segala kisah indah, menjadi saksi sejarah, tentang perasaanku, perasaannya dan sekelumit perjuangan kami untuk dapat bersama.
Namun, entah mengapa, yang sempat tertulis di situ, lebih banyak yang berwarna merah. Lebih banyak kisah 'berdarah'. Bahkan bulatan-bulatan kusam bekas tetesan air mata semakin mempertegas cerita. Tanpa aku sadari, aku menjadikan diary-merah itu sebagai tempat sampah. Tempat semua perasaan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, keputus-asaan, yang tak dapat kuungkapkan pada siapapun, tumpah ruah. Diary-merah itu, seolah menjadi bentuk 'wajah' yang lain dari seorang Fa. Yang di setiap harinya selalu mencoba tampak tegar, kuat, sabar, dan mencoba untuk selalu bersikap bijaksana.
Tak dapat aku pungkiri, diary-merah itu memberi begitu banyak jasa. Karena dia aku bisa tetap tertawa meski terluka. Karena dia aku bisa tetap percaya dalam kecurigaan. Karena dia aku bisa terus berupaya dalam ketidak-berdayaan. Karena dia aku bisa tetap bahagia dalam penderitaan. Karena dia aku bisa mengais semangat dalam keputus-asaan. Karena padanya, aku bisa menumpahkan segala perasaan, apapun bentuknya, tanpa takut dihakimi, tanpa takut diberi komentar "itu salahmu sendiri", "harusnya kamu tidak begitu", "siapa suruh pilih itu" dan komentar-komentar menyudutkan yang lain. Dan setiap kali aku selesai menumpahkan setiap unek-unek padanya, perasaanku bisa kembali lega, pikiranku dapat kembali jernih, hatiku kembali dipenuhi cinta, dan dengan membacanya kembali aku dapat bercermin dan menarik sebuah pelajaran berharga.
Kini, aku ingin menyudahi kisahku bersama sang diary-merah. Sudah cukup perannya sampai sejauh ini. Memang aku tak akan membakarnya, tak akan membuangnya, tapi aku tak ingin lagi menuliskan kisah-kisahku padanya. Aku akan menyimpannya, tak ingin lagi membukanya, karena setiap menelusuri kisah demi kisah di dalamnya, aku kembali melemah. Karena dengan membukanya, sosok Fa yang rapuh, yang tertatih karena luka yang sama terus berulang, yang penuh dendam, yang penuh penyesalan, yang terkubur kebencian bisa kembali menjelma dan berkuasa. Menyudahi kisah bersama diary-merah, aku harap dapat meringankan setiap langkahku, karena kentang busuk yang tak sengaja selalu ku bawa itu telah aku buang.
Aku berharap, kini aku akan semakin menjadi kuat, karena ada seseorang yang bersedia menjadi tempatku berkisah, yang siap menopangku saat aku goyah, merengkuhku saat aku lemah, mendampingiku saat aku salah, mendukungku saat aku kalah. Seseorang yang membuatku bebas bercerita, tanpa harus takut mendapat komentar mengerdilkan. Dan aku, selalu sangat bersyukur atas kehadirannya, atas kembalinya 'dirinya' seperti saat aku pertama kali mengenalnya. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti dia.
Dan untuk para suami, percayalah, para istri akan sangat bahagia, bila ia bisa menceritakan apa saja pada suaminya (orang paling spesial dalam hidupnya) tanpa harus kecewa karena mendengar komentar "gitu aja ngeluh", "harusnya kamu tidak begitu", "salahmu sendiri", dan sejenisnya. Kebanyakan wanita, mencurahkan perasaan bukan untuk mencari penyelesaian, bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Wanita perlu mencurahkan perasaan karena ia bisa merasa lega setelahnya. Karena itu, Anda tidak perlu segera menyodorkan suatu solusi, tidak perlu tersinggung karena merasa dipaksa berada di posisi tidak mengenakkan, yang perlu Anda lakukan hanyalah menyediakan waktu dan mendengarkan dengan penuh empati.
Only registered users can write comments. Please login or register.