Rasa-rasanya, aku ini termasuk orang yang tidak terlalu ceroboh, bahkan cenderung berhati-hati. Setiap bawa sesuatu di tempat-tempat umum, biasanya setiap saat aku cek, aku lihat, aku pegang erat-erat (kayak balon aja). Ndak cuman tas dan isinya, tas plastik belanjaan biasa aja pasti aku jaga baik-baik. Intinya, aku selalu ingat baik-baik sama pesan Bang Napi, bahwa kejahatan terjadi tidak hanya karena adanya niat si pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan, jadi waspadalah! Tapi yang namanya apes copet, sepertinya emang selalu lebih lihai dan tidak pernah kehabisan cara!
Ceritanya, hari ini aku memenuhi panggilan dari sebuah perusahaan outsourcing di jalan kaliurang untuk mengikuti serangkaian tes, lolos tes tulis dan psikotes, aku dihadapkan pada sebuah komputer dan beberapa soal, lolos dari tes komputer, tibalah saatnya untuk menunggu giliran interview. Beberapa saat sebelum interview, staf hrdnya mengumumkan bahwa pelamar yang lolos akan ditempatkan sebagai sekretaris pada sebuah BUMN di Semarang. Wah, aku jadi merasa sedikit kecewa, karena waktu ditelpon, petugasnya bilang kalau yang dicari karyawan untuk di tempatkan di perusahaan di wilayah Jogja. Tapi tanggung untuk mundur, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu giliran interview, toh belum tentu lolos juga, kan yang dibutuhkan sekretaris, jadi selain perlu keterampilan pastinya juga butuh penampilan kan? Hehe...
Eits, tapi bukan itu inti cerita kali ini. Siang menjelang sore, dengan kepala pusing karena sempat kehujanan, aku pulang dengan bis kota. Nah, pas hendak turun dari bis jalur 7, aksi pencopetan itupun terjadi.
Beberapa saat sebelum aku turun, seorang penumpang bis berdiri di dekat pintu, aku pikir dia juga mau turun. Aku pun berdiri, mencangklong tas yang tadi aku pangku, dan menjepitnya dengan lengan kiriku lalu berjalan mendekati pintu, setelah itu berteriak "kiri pak!", aku lihat sekilas satu orang lagi berjalan di belakangku dan bis pun berhenti di tempat yang aku inginkan. Ketika aku hendak melangkah keluar, tiba-tiba orang yang berdiri di dekat pintu berteriak "apotik depan tuh!" dan seketika itu juga sopir menjalankan bisnya. Bisa ditebak, akupun terhuyung, dan orang yang di pintu tadi dengan sigap menangkap tangan kiriku, aku selamat, tidak terjatuh. Masih dengan kondisi tangan dipegang (dan karena masih kaget juga, tentu aku tidak memperhatikan lagi tasku), aku kembali berteriak pada sopir bahwa aku mau turun di situ. Bis pun kembali berhenti, saat aku hendak melangkah turun, aku baru sadar bahwa tangan kiriku masih dipegangi orang tadi, dan dengan sopan aku bilang padanya, "maaf pak, saya mau turun di sini," lalu diapun melepaskan pegangannya. Aku turun dengan tenang.
Begitu turun, aku yang terbiasa ngecek apa yang aku bawa langsung melihat ke tas yang masih tercangklong di bahu kiriku. Betapa kagetnya ketika aku lihat resletingnya sudah terbuka dengan semena-mena. Aku langsung mengecek isinya, dompet ada, hp fleksi ada, oops... hp fren nggak ada! Tanpa pikir panjang aku langsung mengejar bis yang mulai bergerak, aku gedor-gedor sambil berteriak "berhenti pak! berhenti!" dan upff... bis pun berhenti. Aku segera menghampiri pintu bis dan dengan 'semena-mena' pula berkata, "siapa yang ngambil hpku? hpku mana? ayo kembalikan!" entah mungkin karena tampangku yang jadi galak seketika atau karena tidak punya pilihan lain, seseorang yang tadi berdiri di belakangku, yang saat itu sudah duduk di tempat aku duduk tadi, mengeluarkan hpku dari kantongnya, lalu melempar ke arah pintu. Dengan cepat aku meraihnya, dan segera berlalu, takut si pencopet ikutan turun, hiii...
Alhamdulillah, hp (dan terutama nomor fren kesayanganku) nggak jadi ilang. Jadi tambah pengalaman juga, biar lain kali jauh lebih hati-hati. Ugh... terima kasih ya Allah!
Eniwei, setelah nyampe rumah, dan aku pikir lagi dengan runtut, tanpa bermaksud untuk berprasangka buruk, kayaknya kru bis sudah mengetahui (atau bahkan bekerja sama?) dengan para pencopet itu. Soalnya, saat orang di pintu tadi bilang "apotik depan!" (pas saat aku hendak turun) sopir bis seperti sengaja langsung tancap gas sehingga aku terhentak. Trus, saat aku hendak turun tadi, yang berdiri di dekat pintu cuman tiga orang, aku dan dua kawanan pencopet itu. Dengan kondisi bis yang tidak penuh sesak, harusnya kenek bis melihat aksi itu dong, karena dia berdiri tidak jauh dari pintu juga. Ah, entahlah, ada yang punya cerita serupa? sharing di sini yah, biar yang mbaca bisa ikut lebih hati-hati...
Only registered users can write comments. Please login or register.