Ketika tumbuhan terakhir telah tumbang Ketika binatang terakhir telah mati Ketika air terakhir telah kering Kita akan sepenuhnya tersadar Bahwa manusia tidak bisa memakan dan menghirup uang!
Dulu, waktu masih rutin 'ngangkot' di Malang, kata-kata itu begitu lekat dan akrab. Gimana nggak? hampir di setiap pintu angkot yang wira-wiri di kota Malang dipasangin stiker dengan bunyi tulisan kayak gitu. Nggak persis sih, tapi intinya kurang lebih sama. Klo nggak salah, yang bikin tuh stiker adalah komunitas pecinta alam suatu universitas dalam rangka memperingati hari bumi. Sayang, gregetnya masih sebatas itu. Gaung 'selamatkan bumi' belum jua terdengar menggelegar. Kita, sebagian besar dari kita belum terketuk dan tergerak untuk mengindahkannya.
Untunglah, gaung itu kini kembali menyeruak, dengan baju kebesaran bertajuk Global Warming. Mencoba menggedor kesadaran kita yang memang sudah mulai merasa kelimpungan oleh 'demo alam' yang semakin tak terkendali. Lewat KTT Perubahan Iklim dan Pemanasan Global yang dilangsungkan di Bali, tentu kita boleh banyak menaruh harapan. Semoga negara-negara industri maju (terutama Amerika yang dulu sempat 'mangkir' dan tidak bersedia meratifikasi Protokol Kyoto) benar-benar berkomitmen untuk mengurangi emisi Karbon dioksida (CO2), Metana (CH4) dan Dinitro oksida (N2O), sekaligus berkomitmen untuk melakukan dan memegang teguh komitmennya itu.
Kita tidak usahlah terlalu mengernyitkan kening menyoroti para pembesar yang sedang berdiskusi di Bali sana. Meski katanya konferensi itu menggunakan kertas secara berlebihan yang pada hakekatnya justru andil dalam meningkatkan 'pemanasan global', kita harus tetap yakin, mereka punya satu misi, yaitu mempersiapkan bumi agar dapat mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya.
Lalu kita mesti ngapain sekarang? Apa mentang2 negara kita tidak termasuk negara industri yang artinya tidak terlalu banyak 'memproduksi' gas rumah kaca, trus kita bisa cuek? Atau mentang2 di negara kita masih cukup banyak hutan (hutan? ah, apa bener masih banyak?) trus kita bisa merasa cukup 'aman'?
Ada temen yang bilang, sebagai orang kecil (saya sih cukup 'gede' :p) kita tidak bisa berbuat terlalu banyak, karena semua tergantung sama para pembesar. Ah, memang benar itu. Masing-masing kita memang tidak bisa berbuat banyak, tapi bukankah itu berarti kita masih bisa melakukan sesuatu? Sesuatu yang kecil, misalnya.
Sulitkah sesuatu yang kecil itu? Tidak, bahkan cenderung mudah tapi kadang saking mudahnya sampe nggak kepikir. Misalnya:
menanam pohon di halaman rumah. Nggak punya halaman? tanam di pot!
sebisa mungkin masak pake kompor gas, bukan minyak tanah atau batu bata bara
kurangi kegiatan melepas asap rokok ke udara bebas (sebaiknya asap rokoknya ditampung di tempat khusus -toples kali- kan lumayan tuh, bisa diisep2 lagi sampe habis, hehe)
nggak usah pake hairspray (rambut acak-acakan lagi tren loh, atau buat yang cewek pake jilbab kan praktis tuh)
gunakan kantong plastik lebih dari sekali dan sebisa mungkin gunakan peralatan plastik yang bisa didaur ulang
apa lagi yah? tadi sih ada banyak idenya, tapi kok sekarang pada menguap? pokoknya lakukan apa saja deh yang sekiranya dapat mengurangi kecarut-marutan udara dan lingkungan kita.
Memang sih, apa yang kita lakukan mungkin tidak akan terasa manfaatnya selama 10 tahun ke depan, bahkan mungkin tidak akan pernah kita rasakan. Tapi kan ya kita semua tau to, klo bumi yang kita pijak ini bukan warisan nenek moyang tapi titipan generasi mendatang? Dan memang sih, apapun usaha kita tentu tidak akan memperpanjang usia bumi (karena bila telah tiba waktunya, bumi tentu akan binasa) tapi setidaknya kita telah berusaha memberi kesempatan pada anak cucu kita untuk menghirup udara yang bersih sama seperti saat kita pertama kali menghirupnya... Ayo Selamatkan Bumi!