Pada ngapain sih pas libur lebaran kemarin? Pasti sebagian pada mudik kan? Saya juga demikian. Meski mudiknya baru hari ke-4 dari tanggal 1 Syawal menurut pemerintah (mo bilang tanggal 16 Oktober 2007 aja pake muter dulu nih, kan biar tulisannya banyak :p). Iyah, selasa pagi itu saya dan tuan besar mudik ke Malang, naik travel dapet tempat duduk di depan sendiri atau kursi nomor 1 dan 2. Biasanya saya klo naik travel pasti pilih kursi nomor 3 atau 6, klo kepepet ya mau di kursi nomor 8, kenapa? ya karena saya sukanya di sebelah itu, hehe... Perjalanan Jogja-Malang terasa cukup lancar, tapi ya gitu deh, meski travelnya ber-AC, kita tetep kepanasan, scara sinar matahari dari arah depan kan nggak mungkin ditutup pake korden.
Sampai di Malang sekitar pukul 6 sore, tapi nyampe rumah Abah-Umi baru pukul 7 malem, maklum, biasanya tuan besar saya bilang klo kampung halaman saya itu bukan di Malang tapi di MalangCoret, karena lokasinya cukup jauh di sebelah selatan Kota Malang. Meski capek, saya dan tuan besar langsung disambut oleh sederet acara yang memang sudah direncanakan sejak dari Jogja, berasa jadi pejabat yang diundang ke suatu negara untuk menghadiri serangkaian acara gitu deh! *obsesi pejabat neh! haha...* AWAS!: ini postingan panjang, siap-siap bosen!
Begitu kita sampai di tujuan, acara pertama tentu minta maaf sama Abah-Umi. Setelah mandi dan makan, kita langsung ke rumah Nyik (nenek dari Abah) dilanjutkan ke rumah budhe dan bulik2 dari pihak Abah. Abis itu kita balik lagi ke rumah Nyik karena ternyata saya dapet jatah untuk nggoreng ratusan donat kentang buat acara haul Kakek keesokan harinya. *sigh* padahal kan aku sebenernya udah ngantuk, hehe...
Tanggal 17 Oktober pagi, saya dan tuan besar udah siap-siap dandan rapi lagi karena mesti segera ke rumah Mbok Nyik (nenek dari Umi) dan ke 7 rumah sodara-sodara Umi. Dan acara 'ngider' itu harus selesai sebelum ashar, karena setelah ashar kita harus ke rumah Nyik lagi untuk ngebantuin persiapan acara haul malam harinya. Syukur Alhamdulillah, semua acara bisa terlaksana sesuai rencana.
Proses pemberangkatan rombongan: sang komandan cilik mulai resah karena bis yang disewa 'ngaret'.
Tanggal 18 Oktober, seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya, Nyik beserta anak, cucu dan cicitnya (sodara-sodara dari pihak Abah) ziarah dan rekreasi bersama. Biasanya kita akan berziarah ke 5 makam walisongo dan bermain ke 1 tempat rekreasi. Kalau tahun lalu kita ke Wisata Bahari Lamongan, tahun ini diputuskan untuk ke Kebun Binatang Surabaya, karena banyak generasi ke-4 (para cicit) yang belum pernah masuk ke kebun binatang. Dengan harga tiket masuk 10ribu rupiah per orang (plus tiket tambahan 3ribu rupiah ketika hendak masuk ke koleksi ikan di akuarium dan koleksi reptil) sepertinya KBS ini blum bisa melepaskan diri dari istilah 'jorok dan bau' (tapi tuan besar bilang klo koleksi binatangnya masih lebih lengkap dari Gembira Loka Jogja). Yang pasti sih, anak-anak kecil pada excited tuh, bahkan si Aslah (saudara sepupuku yang baru berusia 2 tahun) sampe terbengong-bengong melihat begitu banyaknya 'makhluk asing' yang dia temui hari itu. Haha, ni anak, sampe rombongan udah kembali ke bis pun masih bengong aja.
Dari KBS, kita langsung menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Kalau generasi pertama dan kedua lebih excite pada acara doa bersama atau tahlilan atau istighosah, generasi ketiga dan keempat (itu berarti termasuk saya!) lebih tertarik pada pernak-pernik yang di jual di sepanjang jalan menuju lokasi makam, hehe... (tapi tetep sih, sebelum acara belanja, 'wajib' ikut acara doanya dulu).
Setelah itu, bis Kalisari yang kita sewa langsung meluncur ke makam Sunan Giri di Gresik. Kalau mau ziarah ke makam ini, biasanya bis akan parkir di tempat parkir khusus yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi makam. Karena itu, begitu kita turun dari bis, akan segera disambut oleh para tukang ojek dan para kusir dokar/andong. Terserah mau naik apa, wong tarifnya kurang lebih sama saja, sekitar 4ribu per orang PP. Tapi kalau Abah saya berpesan, sebaiknya naik andong saja, lebih aman karena tukang ojeknya kadang ngebut dan ugal-ugalan di jalan. Cuman klo naik andong, kita mesti turun di pelataran bawah (sehingga setelah itu mesti naik tangga yang cukup banyak dan cukup bikin orang segendut saya ngos-ngosan sampe harus berhenti beberapa kali). Kalau naik motor, bisa minta turun di depan pintu makam karena ada jalur khusus yang memungkinkan motor bisa naik ke lokasi makam. Sama seperti di lokasi makam Sunan Ampel, sederet pedagang yang ada di sepanjang jalan menuju makam tetap menjadi tumpuan perhatian saya. Tapi di sini saya tidak belanja apa-apa selain 2 butir pentol/bakso yang ukurannya lumayan gede yang disantap hanya dengan saos. Yummy banget, apalagi setelah saya ngos-ngosan dari bawah!
Tujuan berikutnya adalah makam Maulana Malik Ibrahim atau yang disebut juga Sunan Gresik. Lagi-lagi, sederet pedagang mencuri perhatian saya. Dan lagi-lagi di sini saya beli pentol/bakso yang ukurannya juga gede-gede. Tapi baksonya bukan bakso daging karena lebih banyak tepung dan kanjinya sehingga rasanya kenyal. Tapi justru kenyalnya itulah yang bikin saya sampe nambah, heuheue... *tetep*
Ketika malam mulai turun, kita sampai di makam Sunan Drajat. Meski badan sudah mulai lelah, tapi semangat saya untuk menjelajah deretan pedagang yang juga banyak berjejer di sekitar jalan menuju makam tak pernah padam. Tapi seperti di sekitar lokasi makam Sunan Giri, tak ada barang-barang yang ingin saya beli di sini selain beberapa botol minuman dingin karena memang saya dan tuan besar lagi hausss banget! Salah satu ajaran Sunan Drajat yang begitu 'menyentuh' saya adalah Berilah tongkat bagi yang buta, Berilah makan bagi yang kelaparan, Berilah pakaian bagi yang telanjang dan Berilah tempat berteduh kepada yang kehujanan.
Dan sekitar pukul 10 malam lebih, kita sampai pada tujuan ziarah yang terakhir, yaitu makam Sunan Bonang . Kalau dulu waktu masih kecil, saya seneng banget dibeliin baju-baju atau barang yang ada tulisan 'Sunan Bonang' nya. Tapi sekarang rasanya kok 'norak' juga yah, hehe... Di pasar sekitar makam itu, saya sempat belanja beberapa barang, seperti daster, baju, dan gelang 'Aisyah', sampe-sampe tuan besar agak marah karena saya klamaan milih-milihnya. Maap yah ;)
Fiuh! hati seneng, tapi badan pegel2. Sekitar jam 3 dini hari kita sampai kembali di rumah dengan selamat. Alhamdulillah.. (dan daripada yang baca tambah bosen, sebaiknya saya sambung ke episode berikutnya :p), Insyaallah ya....
Only registered users can write comments. Please login or register.