Tidur siang, bagi 2 ponakanku yang lagi aktif2nya seperti menjadi rutinitas yang paling tidak menyenangkan. Perlu banyak rayuan pulau kelapa atau bahkan sedikit 'ancaman' agar mereka mau tidur siang. Seperti hari ini, aku kebagian jatah momong mereka seorang diri. Eyang (ibu) lagi ada undangan di kabupaten dan dianter adik sepupu. Seperti biasa, masku dan mbak (mama mereka) kerja. Sudah bisa dipastikan, bila di rumah hanya ada tiga orang ini (2 cowok2 kecil itu dan tante satu-satunya ini), suasananya akan heboh sampe bikin pening. Maklum, itu anak2 ndak ada takut2nya sama diriku, klo aku larang ini itu pasti deh ndak diturutin, malah bakal menjadi2, hehe... (biasa kali yah bahasa anak2, klo dilarang malah kayak disuruh :p). <lanjuttt>>
Karena kebetulan hari ini baju-bajuku lagi banyak yang perlu disetrika, pulang sekolah mereka aku biarkan saja main sepuasnya, main apa aja, mo ke halaman nggak pake sendal kek, mau mainan air sampe basah kek, mo nyetel tivi kenceng2 sambil teriak2 kek, selama aku lirik tidak membahayakan ya aku biarin aja. Jam 11 lewat saat aku tawarin makan siang, mereka bilang nggak mau, ndak aku bujukin dan aku lanjutin setrikaan lagi. Sampe jam 12, si Kiki mulai mendekat dan bilang, "laper Tante...", hehe...
Si Kiki bisa aku bujuk buat maem sendiri, sementara adeknya teteup maunya disuapin (padahal klo di sekolah dia udah bisa makan sendiri lho dan klo sama mamanya dia juga jarang disuapin). Mungkin karena kecapekan main, Kiki dan Rere lahap banget maemnya, sampe nambah segala, mereka maunya sih nambah untuk yang kedua kalinya, tapi aku cegah karena kuatir perutnya terlalu kenyang dan malah sakit. Dengan wajah memelas Kiki protes, "sopnya Tante enak..". Owalah...
Tapi dengan janji boleh maem lagi setelah 2 jam, akhirnya mereka nurut. Setengah jam setelah makan, aku bujukin mereka buat tidur siang. Nah, inilah bagian repotnya. Ada aja alasan yang mereka kemukakan biar bisa 'lolos' dari ritual tidur siang. Padahal hari ini mereka 'harus' tidur siang karena sorenya mau diajak ke Solo sama mamanya, naik kereta. Kasihan juga mamanya klo sampe mereka berdua ketiduran di kereta. So, si tante rasanya harus sedikit galak. Seperti biasa, ancaman yang biasanya paling manjur adalah pura-pura mau telpon sang mama di kantor. Tapi kali ini ancaman itu kurang mempan. Mereka masih aja cekikan dan ndak mau rebahan. Sampe akhirnya aku bilang, "siapa yang mau bobok di kamar Tante?"
Spontan dua-duanya pada angkat tangan (ngacung maksudnya), dan dengan gegap gempita (hehe, maksutnya sambil lari-lari plus ketawa riang) mereka berlari menuruni tangga rumahnya dan berlari ke kamarku. Sampai di kamar aku langsung beri mereka masing-masing satu bantal dan satu guling. Aku suruh mereka tidur bertolak belakang, biar nggak becandaan lagi, di tengah2 mereka aku kasih bantal gede. Dengan rayuan "siapa yang lebih dulu tidur dia yang lebih hebat", akhirnya merekapun terlelap. Tapi.... ada resikonya. Oom (masku) pulang kantor nggak bisa langsung rebahan karena tempat tidurnya diakuisisi sama ponakan2nya, hehe... maap ya Oom...
Only registered users can write comments. Please login or register.