Semalam, tiba-tiba aku teringat pada 3 orang sahabat karibku (baca: 3 anggota geng-ku) semasa SLTA (ah...di mana kalian semua kini?). Aku dengar, yang dua orang udah nikah beberapa tahun lalu, sementara yang seorang sampai saat ini belum menikah, dia baru merampungkan S2nya di Brawijaya. Hmm... terakhir aku ketemu sama yang satu ini pas acara pernikahanku Mei 2005 kemaren. Sementara yang dua, terakhir ketemu ya pas acara wisuda SMA tahun 1997 yang lalu. Hiks!
Suatu hari, kami berempat duduk di Bu Kantin (bukan kantin sekolah sih, tapi warung yang ada di belakang sekolah), tiba-tiba salah seorang dari kami bertanya, “Hei, kalian semua nantinya pengen suami yang seperti apa sih?” meski kami semua sepakat kalau itu bukan pertanyaan serius, tapi kami mau menjawabnya, dengan sepenuh hati pula! Hehe...
“Yang punya kepribadian baik dong! Rumah pribadi yang baik, mobil pribadi yang baik, dan lain-lain. Pokoknya yang baik-baik” sahut salah seorang. Yang lain menimpali, “Yang cakep! Biar gak malu-maluin dan bisa dipamerin!”. “Klo suamiku, harus bisa baca kitab kuning, karena kalau enggak, orang tuaku nggak bakalan setuju.” Lalu, serentak mereka melihat aku dan bertanya, “Kalau kamu Fa?”
Dugs! Aku pengen suami seperti apa ya? “Aku..., aku nggak pengen punya suami!” jawaban mantapku disambut dengan pelototan mata mereka dan komentar “gendheng arek iki” (anak ini udah gila), dan aku membalasnya dengan senyuman termanisku (ck..ck...kayak apa yah?) sambil menjelaskan, “Di dunia ini, laki-laki yang aku percayai hanya bapakku dan saudaraku, tapi aku tak mungkin menikahi mereka kan? Lalu kalau aku tidak bisa percaya sama yang namanya laki-laki, bagaimana aku bisa menyerahkan hidupku pada mereka? Eh, tapi kalau ada laki-laki seperti Nabi Muhammad (SAW) aku mau banget deh! Hehe...” dan mereka kompak menimpali... “anak ini sakit jiwa!” hehe.... (Jahat ya mereka? Hiks!)
Lalu, seiring bertambahnya usia, aku pun menemukan kriteria calon suami impianku. Karena ternyata, masih banyak loh laki-laki yang amat sangat baik padaku (aku kan baik...hehe). And then... aku ketemu sama my endless love. Dia tidak sesuai seratus persen dengan kriteria dambaanku, tapi kenapa aku mau (menikah) dengannya? Aku menyebutnya karena keajaiban cinta.
Bener loh, kita boleh saja membuat suatu daftar panjang tentang kriteria pasangan hidup yang kita inginkan, tapi suatu ketika, saat kita mendapatkan keajaiban cinta, kita akan rela melepaskan kriteria itu satu demi satu. Karena keajaiban cinta membuat kita tak hanya memikirkan apa yang kita inginkan, tetapi akan membuat kita berfikir apa yang akan membuat pasangan kita bahagia. Saat keajaiban cinta datang, mungkin kalian akan bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak masuk dalam kriteria yang kalian buat, tapi percayalah, kalian akan hidup bahagia bersamanya.
Only registered users can write comments. Please login or register.